Pontianak, pbhk.org  PT.Sintang Raya kembali berbuat ulah, kali ini dilakukan di Desa Dabong, Dusun Selamat Jaya (Sembuluk). Pada desa tersebut terdapat lahan pencadangan SP-2 transmigrasi seluas 2.675ha yang dibuktikan dengan adanya SK penunjukan dari Gubernur No. 476 tahun 2009. Guna mempersiapkan lahan transmigrasi tersebut pemerintah telah menyediakan dana sekitar +3M untuk membangun saluran irigasi jembatan dan pintu air. Kemudian pada tahun 2010 ada sosialisasi dari PT.Sintang Raya yang menyatakan akan membuka lahan untuk perkebunan sawit di desa Dabong, ia menyatakan bahwa desa Dabong telah masuk sebagai kawasan HGUnya termasuk lahan yang telah di tujuk sebagai areal pencadangan transmigrasi tersebut.

Sejak awal masyarakat sudah menolak masuknya perkebunan sawit di desa Dabong, ketika awal masuknya Sintang Raya masyarakat sudah berkali kali melakukan aksi penolakan, namun aksi ini tidak membuat Sintang Raya menghentikan rencana pembukaan lahannya, bahkan saluran irigasi yang telah di bangun kini telah di timbun dan ditanami sawit. Berbagai upaya dilakukan Sintang Raya dalam melancarkan rencananya, salah satunya dengan mendekati  kepala dusun.

Pada tahun 2013 ketua RT Desa Dabong yang ketika itu masih bekerja di PT.Sintang Raya menemukan kwitansi pembayaran claim lahan Masyarakat Dusun Sembuluk Desa Dabong seluas 602ha dibak sepeda motor Tosa milik perusahaan dan ditanda tangani oleh Kepala Dusun Sembuluk Desa Dabong Kabupaten Kubu Raya yaitu Bustami. Setelah menemukan kwitansi tersebut pak RT menemui pak RW dan mengajak masyarakat untuk mendiskusikan masalah ini dan menemui Bustami untuk konfirmasi masalah tersebut. Bustami mengakui claim ganti rugi itu memang benar terjadi, untuk claim lahan tersebut PT.Sintang Raya menyerahkan uang sebesar Rp1.204.000.000 kepada Bustami dengan mengatasnamakan masyarakat Dusun Sembuluk Desa Dabong, namun uang tersebut tidak pernah sampai kepada masyarakat. Memang lahan yang diklaim adalah lahan pencadangan transmigrasi milik Dinas Transmigrasi, namun masyarakat tidak terima dalam hal klaim ganti rugi yang mengatasnamakan masyarakat. Berkali kali masyarakat melaporkan kepada Dinas Trasmigrasi Kubu Raya akan adanya garapan lahan sawit di atas tanah pencadangan transmigrasi tersebut. Pihak transmigrasi hannya memberikan pernyataan bahwa lahan tersebut tidak pernah di cabut statusnya sebagai lahan pencadangan transmigrasi, bahkan setiap tahunnya terus di cairkan dana untuk perawatan irigasi yang telah di bangun, hal ini telah di konfirmasi sendiri oleh masyarakat di kantor desa. Namun pihak  pemerintah dan Dinas Transmigrasi Kabupaten Kubu Raya tidak ada melakukan langkah langkah apapun untuk mengatasi masalah tersebut. Selain ke Dinas Transmigrasi Kubu Raya masyarakat juga telah melaporkan hal ini ke Gubernur serta Pak Muda Mahendrawan yang ketika itu masih menjabat sebagai Bupati Kubu Raya namun tidak mendapatkan tanggapan yang berarti, dan konflik inipun terus berlanjut hingga sekarang.

Merasa lelah di bohongi oleh Kadus Bustami, dan dengan tidak adanya tindakan apapun dari pemerintah khususnya Dinas Transmigrasi Kubu Raya terhadap adanya perkebunan Sintang Raya di atas lahan milik transmigrasi. Pada tanggal 21 maret 2016, 4 warga yang mewakili masyarakat Desa Dabong dengan di dampingi PBHK melapor ke Polda Kalimantan Barat akan adanya dugaan penggelapan uang claim ganti rugi lahan pencadangan transmigrasi yang dilakukan oleh Bustami selaku Kepala Dusun Sembuluk Desa Dabong Kabupaten Kubu Raya, hal ini di dasari dengan adanya kwitansi yang di temukan ketua RT pada tahun 2013 tersebut di atas. Hingga saat ini baru 2 saksi yang di periksa, pertama Burhanuddin selaku masyarakat Dabong yang mengetahui asal usul lahan dan permasalahan tersebut dan yang kedua adalah ketua RT Desa Dabong pak Ismail yang menemukan kwitansi tersebut. Kedepannya penyidik akan berencana memanggil Bustami Selaku Kepala Dusun Sembuluk Desa Dabong Kabupaten Kubu Raya yang menerima uang klaim ganti rugi tersebut dari PT Sintang Raya dan pihak Transmigrasi Kubu Raya  selaku pemilik lahan.

asdadasd
Pemeriksaan saksi Ismail di polda KalBar oleh penyidik Yanto

 

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *