Pontianak, pbhk.org – Kasus penangkapan warga  di desa olak-olak kubu oleh oknum kepolisian semakin menggila. Setelah sebelumnya seseorang yang bernama Ikhsan ditangkap dan ditahan oleh Kepolisian Resort Mempawah (23/7), kini giliran 2 orang warga olak-olak kubu yang kembali ditangkap.

Penangkapan yang pertama dilakukan terhadap Katin warga desa olak-olak kubu (25/7). Sekitar pukul 14.25 WIB datangnya pihak kepolisian  berjumlah 3 orang yang duduk diruang tamu rumah Pak Katin, sementara diluar rumah berjaga-jaga  5 orang polisi. Kondisi Pak Katin saat itu dalam keadaan sakit, akan tetapi karena ada tamu dari kepolisian Pak Katin mencoba untuk bangun dan menemui polisi diruang tamu rumahnya.

Pihak kepolisian menanyakan kepada Pak Katin mengapa sudah ada 2 kali surat panggilan namun tidak datang, lalu Katin menjawab bahwa saat ada panggilan, Katin tidak dirumah. Pihak Kepolisian kemudian membacakan surat panggilan ke III dan memaksa Katin  untuk ikut. Pak katin menolak karena merasa kondisi dirinya dalam keadaan sakit .

Pihak kepolisian pun kemudian tetap memaksa Pak Katin untuk ikut, dengan cara yang anarki yakni mempelintir tangan Katin dan mencekik lehernya, Sampai Katin berteriak  dan Katin dibawa keluar paksa sehingga kaca-kaca rumah pecah akibat tarik-menarik dan langsung diborgol. Katin pun kemudian dibawa dengan sepeda motor lanjut dibawa dengan menggunakan speed menuju Kepolisian Resort  Mempawah. Kesokan harinya (26/7), keluar surat perintah penahanan Pak Katin yang disampaikan pihak keluarga.

Penangkapan yang kedua dilakukan terhadap Ponidi warga olak-olak kubu (28/6). Sekitar jam 08.00 WIB Malam rumah Ponidi digerebek secara anarkis oleh puluhan polisi. Ponidi sebelumnya belum pernah sama sekali menerima surat panggilan dan surat-surat lainnya, namun secara paksa dan tiba-tiba Ponidi ditangkap. Ponidi ditangkap dengan tuduhan pencurian buah sawit milik PT Sintang Raya.

Terkait kasus ini Perkumpulan Bantuan Hukum Kalimantan (PBHK) akan segera melakukan pendampingan hukum terhadap mereka. PBHK juga berencana melaporkan kasus ini ke Komnas HAM  serta meminta Kapolda untuk menghentikan tindakan anak buahnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *