*Mantan GM PT FAP Dipidanakan PT FAP

PONTIANAK – DirekturLinkAR Borneo Agus Sutomo menilai, kasus Abdul Aziz yang dilaporkan PT Fangiono Agro Plantation (PT FAP) atas tuduhan penggelapan dan penipuan itu merupakan skema atau cara lama dari perusahaan yang bergerak di bidang perkebunan sawit ini agar kasus-kasus dugaan pencaplokan lahan masyarakat dan dugaan perambahan perusahaan sawit di luar konsesi resmi ini tidak terbongkar dimuka umum. Menurutnya, PT FAP yang tak lain dari anak group dari First Resources telah mendzalimi pahlawan perusahaan itu sendiri.

Sutomo mengatakan, jika orang yang mencoba untuk membongkar sebuah kebobrokan perusahaan, pasti jawabannya adalah kriminalisasi dengan dasar bermacam-macam. “Apalagi Aziz adalah mantan Manager Umum PT Fangiono Agro Plantation, dia pasti memiliki data. Alasan kenapa Aziz dilaporkan, hasil sidang kemarin saksi mengatakan atas perintah atasan. Karena apa? Karena perusahaan tidak bisa menggusur 16 hektar lahan yang sudah diganti rugi, itu saja alasannya, pengakuan pelapor di depan hakim,” katanya di Pontianak, Selasa (11/8).

Namun, saat sidang selanjutnya, Aziz dituduh telah menggelapkan dana. Tuduhan penggelapan itu dimaksud, Aziz telah menggelapkan uang perusahaan untuk membayar hutang pinjamannya kepada masyarakat. Padahal, pinjaman uang dari masyarakat yang dibayarkan Aziz menggunakan uang perusahaan itu merupakan langkah yang dilakukannya demi berlangsungnya perusahaan di Desa Riam Danau, Kecamatan Jelai Hulu, Kabupaten Ketapang.

“Dari data dan hasil diskusi kami dengan orang kampung, disana banyak persoalan. Uang yang dipinjam oleh Aziz dari masyarakat itu untuk mengganti misalnya upacara adat yang telah dilanggar perusahaan seperti menggusur lahan karet masyarakat. Karena inikan harus taktis dan cepat diselesaikan, maka dia meminjam uang orang kampung untuk membayar adat. Sementara kalau menunggu perusahaan sudah pasti lama prosesnya,” terang Sutomo.

Namun sebaliknya, jika Aziz tidak mengambil tindakan, lanjut Sutomo, masyarakat akan semakain berang. Karena Aziz ini meminjam, maka dia harus membayar. “Dia membayar hutang ke masyarakat dengan menggunakan uang yang dikirim perusahaan dalam waktu yang panjang. Seingat saya itu uang ganti rugi tanam tumbuh. Kalau tidak begitu, asli perusahaan Fangiono akan ribut terus,” katanya.

Kasus ini berawal, PT FAPsebelumnya telah dilaporkan oleh Abdul Azis ke Polda Kalbar dan Polres ketapang dengan tuduhan melakukan kegiatan perkebunan tanpa ijin. Namun PT FAP justru melaporkan balik Aziz atas tuduhan penggelapan dana perusahaan untuk kepentingan pribadi. Semacam serangan balik ini diduga agar kebobrokan perusahaan tidak terbongkar. Kendati demikian, Polda Kalbar kini tengah mengkaji laporan dari Aziz.

Lanjut Sutomo, sejak 2007 lalu, perusahaan itu memang kerap terjadi konflik sosial terhadap masyarakat. Namun, berdasarkan pengakuan masyarakat kepada lembaganya, sejak kepemimpinan Aziz di perusahaan itu konflik sosial itu sedikit dapat dihentikan. “Karena apa, karena Aziz begitu taktis. Begitu ada persoalan, dia segera atasi. Salah satunya seperti bayar adat itu,” katanya.

Melihat kasus ini, lanjut Sutomo, terindikasi ada permainan. “Jangan-jangan nanti jika kasus ini putus, Aziz akan diberikan laporan baru, putus, laporan baru lagi. Seakan-akan seperti turnamen bola voli. Seperti pimpinan mereka dahulu yang dibuat seperti itu. Bisa terjadi Aziz mengalami seperti ini juga. Aziz yang menjadi manager selama tujuh tahun ini pahlawan perusahaan dan terlalu loyal untuk perusahaan. Namun dia lupa ini bisnis, bisnis ya tetap bisnis,” ujarnya.

Secara keseluruhan Sutomo melihat PT FAP ini total bermasalah. Secara internasional, sesuai standard RSPO, PT FAP tidak memiliki HCV. “HCV ini hukumnya wajib. Tapi mereka tidak melaksanakan standar-standar RSPO. Tidak sama sekali. Dan itu juga diakui oleh Aziz. Secara Internasional sudah dilanggar, apalagi peraturan Indonesia,” kasalnya.

Sementara itu, Fitriani selaku kuasa hukum Abdul Aziz mengatakan, dirinya akan memberikan bantuan hukum semaksimal mungkin. Karena, dia melihat Aziz memposisikan diri menjadi jembatan bagaimana agar perusahaan dengan masyarakat tidak berkonflik. “Jadi banyak persoalan antara perusahan dengan masyarakat itu komplit, namun Azizlah yang menjembatani. Karena dana-dana taktis itu tidak disediakan perusahaan,” ujarnya.

Fitriani mengatakan, Aziz sebagai GM cepat mencari solusi mengatasi segala hal perusahaan. “Ini persoalan duit loh. Misalnya ada kecelakaan yang melibatkan orang perusahaan, Aziz harus mengatasi, kalau tidak diadatlah, maka dia harus membayar. Nah perusahaan tidak menyediakan dana itu, maka dia menyelesaikan dengan cara dia, dan jadi kasus,” katanya.

Memang diakuinya, cara yang dipakai Aziz itu salah. Namun, itu semua dilakukan untuk kepentingan perusahaan dan masyarakat. “Sidang yang lalu, masyarakat sudah bersaksi bagaimana sepak terjangnya Aziz meredam konflik-konflik yang ada,” katanya. Sementara itu, pihak PT FAP ketika dikonfirmasi belum dapat dihubungi. (oxa). Sumber Rakyat Kalbar

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *